Tentang Pemeringkatan Webometrics
Tujuan Pemeringkatan Webometrics dari Universitas-universitas di Dunia.
Maksud sebenarnya dari pemeringkatan ini adalah untuk memajukan publikasi web. Sebagai dukunganuntuk Open Access, akses elektronik untuk publikasi ilmu pengetahuan, dan untuk materi akademik yang lain adalah target utama Webometrics. Indikator-indikator web juga sangat berguna untuk tujuan pemeringkatan selama tidak dikaitkan dengan banyaknya kunjungan ataupun desain halamannya namun lebih kepada kinerja secara global dan visibilitas dari universitas-universitas tersebut.
Pemeringkatan-pemeringkatan yang lain difokuskan hanya kepada sedikit aspek-aspek yang relevan, khususnya hasil-hasil penelitian, pemeringkatan berbasis indikator web lebih mencerminkan keseluruhan gambaran dengan lebih baik, sebagaimana yang ditunjukan oleh aktivitas-aktivitas lain dari para professor dan peneliti yang diperlihatkan pada web mereka.
Web tidak hanya mencakup hal yang formal (e-journal, penyimpanan data) namun juga komunikasi ilmu pengetahuan dan ilmiah yang informal. Publikasi web lebih murah,dan mampu mempertahankan standar kualitas yang tinggi dalam memperlihatkan proses-proses review. Dapat pula mencapai pengunjung potensial yang jauh lebih besar jumlahnya, menawarkan akses ke pengetahuan ilmiah ke para peneliti dan institusi-institusi yang berada di negara-negara berkembang dan juga untuk pihak ketiga (pelaku ekonomi, industri, politik dan budaya) dalam komunitas mereka sendiri.
Pemeringkatan Webometrics memiliki cakupan lebih besar daripada pemeringkatan-pemeringkatan lain yang sejenis (lihat tabel di bawah). Peringkat tidak hanya difokuskan pada hasil penelitian namun juga pada indikator-indikator lain yang mungkin mencerminkan kualitas global dari penyedia ilmu pengetahuan dan insitusi penelitian di seluruh dunia dengan lebih baik.
Webometrics bermaksud untuk memotivasi baik institusi dan penyedia ilmu pengetahuan untuk memiliki tampilan web yang secara akurat mencerminkan aktivitas-aktivitas mereka. Jika kinerja web dari sebuah institusi di bawah posisi yang diharapkan berdasarkan kemajuan akademik, maka autoritas universitas harus mempertimbangkan lagi kebijakan web mereka, mempromosikan penambahan substansi terhadap jumlah dan kualitas dari publikasi elektronik mereka.
Calon mahasiswa harus menggunakan kriteria-kriteria tambahan jika mereka mencoba untuk memilih universitas. Peringkat Webometrics berkorelasi dengan baik terhadap kualitas edukasi yang ditawarkan dan reputasi akademik, namun variabel non-akademik yang lain butuh untuk dimasukkan dalam perhitungan.
Perbandingan dari Pemeringkatan Utama Universitas-universitas di Dunia
Cakupan Pemeringkatan Universitas Dunia Webometrics
Tabel berikut ini merangkum cakupan aktual dari Pemeringkatan, dalam jumlah negara dan institusi pendidikan di seluruh dunia.
Desain dan Indikator Bobot
Satuan untuk analisis adalah Domain institusi, jadi hanya universitas dan pusat penelitian dengan web domain yang independen yang diamati. Jika sebuah institusi memiliki lebih dari satu Domain, dua atau lebih masukan data dipakai dalam alamat-alamat yang berbeda.
Indikator web yang pertama, Web Impact Factor (WIF), didasarkan pada analisis sambungan (Link analysis) yang mengkombinasikan jumlah sambungan eksternal yang masih berhubungan dan jumlah halaman dari website, perbandingan 1:1 antara visibilitas dan ukuran. Perbandingan ini digunakan untuk pemeringkatan, menambahkan dua indikator baru untuk komponen ukuran : jumlah dokumen, diukur dari jumlah file-file berharga dalam web domain, dan jumlah publikasi yang dikumpulkan dari basis data Google Scholar
Empat indikator yang diperoleh dari hasil kuantitatif yang disajikan oleh mesin pencari yang utama sebagai berikut :
Size (S). Jumlah halaman yang diperoleh kembali dari empat mesin pencari : Google, Yahoo, Live Search dan Exalead.
Visibility (V). Jumlah total link eksternal unik yang diterima (inlink) dari sebuah situs hanya dapat diperoleh secara terpercaya dari Yahoo Search.
Rich Files (R). Setelah evaluasi dari relevansi terhadap aktifitas akademik dan publikasi dan memperhatikan volume dari beberapa format file yang berbeda, berikut ini adalah yang terpilih : Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc), dan Microsot Powerpoint(.ppt). Data-data ini dapat diekstrak menggunakan Google, Yahoo Search, Live Search dan Exalead.
Scholar (Sc). Google Scholar menyajikan jumlah karya tulis dan penghargaan untuk setiap domain akademik. Hasil ini diperoleh dari basis data Scholar termasuk karya tulis, laporan dan item akademik yang lain.
Empat rangking dikombinasikan berdasarkan rumus dimana setiap item memiliki bobot yang berbeda namun tetap mempertahankan perbandingan 1:1.
Pencantuman jumlah total halaman didasarkan pada pengakuan dari pasar global yang baru untuk informasi akademik, jadi web adalah panggung yang sesuai untuk internasionalisasi dari sebuah institusi. Kehadiran web yang kuat dan detail memberikan deskripsi yang tepat dari struktur dan aktifitas dari universitas dan dapat menarik mahasiswa baru dan ilmu pengetahuan dunia.
Jumlah inlink eksternal yang diperoleh dari domain adalah ukuran yang merepresentasikan visibilitas dan dampak materi yang dipublikasikan, dan meskipun terdapat perbedaan yang besar pada motivasi untuk menyambungkan (linking), sebuah bagian kecil yang signifikan bekerja dalam jalur yang sama sebagaimana kutipan dari sebuah karya tulis.
Kesuksesan dari pengarsipan sendiri dan penyimpanan yang lain dapat secara kasar direpresentasikan dari data Rich File dan scholar. Jumlah yang besar melibatkan format pdf dan doc berarti bahwa tidak hanya laporan administratif dan birokrasi yang dilibatkan. File PostScript dan Powerpoint sangat jelas berhubungan dengan aktifitas akademik.
Artikel di atas merupakan terjemahan dari artikel di bawah ini,
|
||||||||||||||
Pemeringkatan Webometrics: Perbedaan Bobot Inlink
Sejak Juli 2009 di website webometrics.info dicantumkan tulisan “Visibility is now calculated giving extra weight to the academic external inlinks that corresponds to those not coming from .com, .org and .net domains.” Ini berarti visibilitas dihitung dengan memberikan bobot yang lebih besar pada link dari luar yang bukan berasal dari domain .com, .org dan .net. Sayangnya tidak dicantumkan seberapa besar bobotnya.
Berikut ini daftar 11 perguruan tinggi Indonesia dengan inlink terbesar. Seandainya bobot inlinknya diberi perbandingan 80% (inlink yang bukan berasal dari .com, .org, .net) dan 20% (inlink yang berasal dari .com, .org, .net) maka yang akan merasakan manfaatnya adalah UM dan UPI karena memiliki 25,8% inlink yang berasal dari bukan .com, .org, dan .net.
|
|
UNIVERSITAS |
INLINK TOTAL |
INLINK BUKAN DARI .COM, .ORG, .NET |
% |
INLINK BOBOT 80%:20% |
|
1 |
UGM |
182.342 |
27.000 |
14,8 |
52.668 |
|
2 |
ITB |
123.576 |
15.800 |
12,8 |
34.195 |
|
3 |
UNS |
60.471 |
8.320 |
13,8 |
17.086 |
|
4 |
UI |
58.418 |
8.580 |
14,7 |
16.832 |
|
5 |
ITS |
46.039 |
5.510 |
12,0 |
12.514 |
|
6 |
Gunadarma |
38.704 |
6.110 |
15,8 |
11.407 |
|
7 |
IPB |
38.649 |
4.110 |
10,6 |
10.196 |
|
8 |
UM |
37.283 |
9.640 |
25,8 |
13.241 |
|
9 |
Mercu Buana |
35.091 |
4.740 |
13,5 |
9.862 |
|
10 |
Petra |
32.683 |
2.340 |
7,2 |
7.941 |
|
11 |
UPI |
30.096 |
7.750 |
25,8 |
10.669 |
| Per 8 Desember 2009 dihasilkan dari Yahoo! | |||||
Malang, 8 Desember 2009
Ketua LCWCU
Johanis Rampisela
Indikator Webometrics Perguruan Tinggi Indonesia (30-11-2009)
KLIK GAMBAR UNTUK MELIHAT INDIKATOR
Malang, 31 Oktober 2009
Johanis Rampisela (http://lcwcu.um.ac.id)
Jalan Menuju WCU yang Realistis
Banyak universitas di Indonesia mendambakan ingin menjadi salah satu World Class University (WCU), sebagai bukti bermutu dan memiliki reputasi.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. dr. Fasli Jalal, Ph.D diundang dalam salah satu pertemuan Majelis Wali Amanah IPB di Le Meridien Hotel Jakarta (4/11). Menurut Dirjen “Karena tidak semua universitas Indonesia merupakan comprehensive university, maka tidak semuanya harus bersaing dalam pemeringkatan THE-QS. Masih banyak modalitas lain yang bisa dimanfaatkan dan itu cukup ramah dan bisa dikerjakan sekarang”.
Sesungguhnya di negara-negara Eropa, pemeringkatan tidak menjadi isu bagi mereka. Sekarang baru menjadi isu politik mereka. Kalau mereka menggeliat dan ikut berlomba, kita bisa hilang seratus peringkat. Ketimbang bersaing di rating THS-QS yang sangat kompetitif dan fluktuatif ini, Dirjen menawarkan langkah yang realistis.
Menurut Dirjen menekuni webometric jauh lebih realistis bagi perguruan tinggi Indonesia, terutama yang bukan comprehensive university. Webometrics (sebuah lembaga pemeringkatan yang berpusat di Madrid, Spanyol yang didirikan atas inisiatif Cybermetrics lab, sebuah kelompok penelitian yang dimiliki Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC) sebuah lembaga penelitian terbesar di Spanyol) ini hanya focus pada pemanfaatan ICT, pengembangan Website perguruan tinggi sebagai proxinya.
Ada empat unsur penilaian yang ditetapkan oleh Webometrics, yaitu visibilitas (V) yang menghitung berapa banyak link eksternal yang terkandung website tersebut, ukuran (S) yang menghitung jumlah halaman yang tertangkap oleh mesin pencari seperti google, yahoo, live search dan exalead. Kemudian juga dihitung dari kekayaan file (R), yakni berapa banyak file jenis PDF (adobe acrobat), “Adobe PostScript”, “Word Document”, dan PPT (Presentation Document), serta “Scholar” (Sc) yang diambil dari data situs mesin pencari seperti disebutkan diatas terkait dengan tulisan-tulisan ilmiah dari perguruan tinggi bersangkutan.
Menurut Dirjen, buat rencana yang matang untuk mencapai ini, bagi saja diri, siapa yang bertanggungjawab mengerjakan apa. Dan ini tidak muluk-muluk. Perguruan tinggi Indonesia bisa mengerjakan ini. Disiplinkan dosen untuk selalu menguploud dan mengupdate kekayaan filenya. Undang semua dosen, mahasiswa, dan alumni untuk selalu heating di website tersebut.
Kedua, yang bisa dilakukan seperti sudah dimulai oleh Dikti terhadap 30 universitas Indonesia yang berminat adalah mengisi satu pola yang ditawarkan oleh QS Star. Mereka membuat benchmark sebuah pengelolaan perguruan tinggi yang baik dengan segala syaratnya melalui pembintangan. Perguruan tinggi akan dinilai berbintang lima kalau memenuhi semua kategori. Kalau belum memenuhi bintang lima, dia mungkin bintang empat dan seterusnya. Seperti hotel, ada bintang lima, empat, tiga dst. Benchmarknya adalah kepada dirinya sendiri, tanpa dipengaruhi oleh naik turunnya posisi orang lain.
“Dikti sudah menfasilitasi untuk tahun 2009 ini 30 universitas Indonesia untuk mengikuti program QS Star ini. Tahun 2010 Dikti akan menfasilitasi sebanyak 150 Universitas lagi. Ini sifatnya demand driven. Pengumumannya dapat diakses langsung melalui website Dikti, Kelembagaan.”, Kata Dirjen.
Ketiga, rencanakan berapa orang staf satu perguruan tinggi harus hadir di berbagai forum internasional, berdasarkan penelitian yang dilakukan. Kalau bisa mereka berpidato di Plenary, paling tidak di pembukaan sessi. Di list betul siapa mereka itu yang jago berkompetisi di forum internasional. Mereka akan melambungkan nama institusi satu perguruan tinggi.
Keempat, dalam merencanakan pengirimana kandidat Ph.D, pastikan mereka belajar di universitas dengan program studi terbaik dunia. Minta Profesor terbaik di prodi itu menjadi pembimbing mereka.
Sejalan dengan itu, rencanakan siapa dari ribuan peer review yang harus diundang dalam forum ilmiah perguruan tinggi Indonesia. Pasti ini menjadi rahasia THS-QS, tapi biasanya mereka adalah tokoh-tokoh yang mendominasi bidang ilmu. Kita gunakan berbagai modalitas untuk mendatangkan mereka. Kita gunakan dana-dana CSR perusahaan. Kalau misalnya ada pihak lain yang kebetulan mendatangkan mereka ke Indonesia, manfaatkan untuk datang langsung ke univesitas kita.
Bantu staf kita yang sedang melakukan penelitian dan menuliskan karyanya untuk diterbitkan di Jurnal peer review internasional. Perguruan tinggi bisa melakukan kerjasama dengan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) untuk menfasilitasi publikasi jurnal Internasional ini.
Dalam konteks itu, menurut Dirjen, perguruan tinggi sudah harus memikirkan secara jernih topik-topik penelitian apa yang sungguh-sungguh harus dibiayai. Riset disainnya seperti apa dan tidak mengulang-ulang. Cari isunya yang frontier research, state of the art ilmu yang dikerjakan secara cluster penelitian, bukan lagi sibuk dengan riset-riset kecil. Indonesia ini adalah ladang isu yang tidak pernah kering untuk dianalisa. Semoga.
Sumber
11 November 2009: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=428&Itemid=1
Indikator Webometrics Perguruan Tinggi Indonesia (31-10-2009)
KLIK GAMBAR UNTUK MELIHAT INDIKATOR
Malang, 31 Oktober 2009
Johanis Rampisela (http://lcwcu.um.ac.id)
The QS – Top 200 Asian University Rankings
THE QS World University Rankings 2009 – Top 400 Universities
Rank 1-30, Rank 31-60, Rank 61-90, Rank 91-120, Rank 121-150, Rank 151-180, Rank 181-210, Rank 211-240, Rank 241-270, Rank 271-300, Rank 301-330, Rank 331-360, Rank 361-390, Rank 391-400
Top 10 Dunia dan Top 50 Indonesia (24 Sep 2009) Versi LCWCU
Berikut ini hasil pemeringkatan top 10 dunia dan top 50 Indonesia yang dihitung oleh Learning Center for World Class University. Pemeringkatannya menggunakan metode Webometrics.







Recent Comments